Kimia itu menyenangkan

Kimia itu menyenangkan

Sabtu, 03 Desember 2011

BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Oseana, Volume XXX, Nomor 3, 2005 : 21 - 26 ISSN 0216-1877
1) Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta
OKSIGEN TERLARUT (DO) DAN KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI
(BOD) SEBAGAI SALAH SATU INDIKATOR UNTUK MENENTUKAN
KUALITAS PERAIRAN

PENDAHULUAN
Estuarin merupakan daerah ekosistem pesisir yang produktif, tapi lingkungannya paling mudah terganggu akibat dari kegiatan manusia, maupun proses alamiah. Kegiatan manusia sebagai bentuk kegiatan pembangunan akan berdampak pada ekosistem, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak yang tidak langsung akan dirasakan sebagai adanya kerusakan pada ekosistem, misalnya pencemaran dari air buangan. Hampir semua air yang digunakan oleh manusia, baik yang digunakan untuk konsumsi maupun industri akan menghasilkan air buangan yang pada gilirannya jika tidak diproses secara benar akan menimbulkan dampak pencemaran. Perairan estuarin adalah sebagai tujuan akhir dari suatu aliran sungai, sehingga di daerah estuarin ini kondisi perairannya dinamis karena menerima beban dari daratan dan debit air sungai. Pada daerah ini akan terjadi proses fisika dan kimia. Bahan organik dan anorganik yang terbawa aliran sungai menjadikan estuarin sebagai perairan yang subur. Sesuai dengan perkembangan penduduk dan pembangunan, maka fungsi sungai akan mendapat beban limbah rumah tangga, pertanian, perikanan, industri dan transportasi. Limbah ini tujuan akhimya ke perairan estuarin. Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air, sehingga pemanfaatannya dapat terganggu. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial, karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis, atau merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air. Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang berasal dari penduduk. Telah banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh air buangan industri dan limbah penduduk terhadap organisme perairan,terutama pengaruhnya terhadap ikan. Akibat yang ditimbulkan antara lain dapat menyebabkan kelumpuhan ikan, karena otak tidak mendapat suplai oksigen serta kematian karena kekurangan oksigen (anoxia) yang disebabkan jaringan tubuh ikan tidak dapat mengikat oksigen yang terlarut dalam darah (JONES, 1964). Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia, sepeti oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dan kebutuhan oksigen biologis (Biological Oxygen Demand = BOD). Tulisan ini lebih difokuskan pada dua parameter dimaksud.
OKSIGEN TERLARUT (DO) Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (SALMIN, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. ODUM (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (WARDOYO, 1978). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (SWINGLE, 1968). Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (HUET, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm
untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (ANONIMOUS, 2004).Oksigen memegang peranan penting
sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya.
ANALISIS OKSIGEN TERLARUT
(DO)
Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu :
1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
2. Metoda elektrokimia
1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan
larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut : MnCI2 + NaOH Mn(OH)2 + 2 NaCI 2 Mn(OH)2 + O2 2 MnO2 + 2 H20 MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 Na2S2C3 Na2S4O6 + 2 NaI
2. Metoda elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah :
Katoda : O2 + 2 H2O + 4 _ 4 HO _ Anoda : Pb + 2 HO _ PbO + H20 + 2e _ Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut. Penentuan oksigen terlarut (DO) dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang tepat. Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan H+ cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran. KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI
(BOD)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh rganisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973). Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat
hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20°C (SAWYER & MC CARTY, 1978). Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacam-macam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2 dan H2O. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu. Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20°C yang merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Dalam prakteknya dilaboratoriurn, biasanya berlangsung selama 5 hari
dengan anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. Nilai BOD 5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai BOD total (SAWYER & MC CARTY, 1978). Penentuan waktu inkubasi adalah 5 hari, dapat mengurangi kemungkinan hasil oksidasi ammonia (NH3) yang cukup tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa, ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan BOD. Reaksi kimia yang dapat terjadi adalah : 2NH3+3 O2 2NO2 _ + 2 H++ + 2 H2O 2NO2 + O2 2 NO3 _
Oksidasi nitrogen anorganik ini memerlukan oksigen terlarut, sehingga perlu diperhitungkan. Dalam praktek untuk penentuan BOD yang berdasarkan pada pemeriksaan oksigen terlarut (DO), biasanya dilakukan secara langsung atau dengan cara pengenceran. Prosedur secara umum adalah menyesuaikan sampel pada suhu 20°C dan mengalirkan oksigen atau udara kedalam air untuk memperbesar kadar oksigen terlarut dan mengurangi gas yang terlarut, sehingga sampel mendekati kejenuhan oksigen terlarut. Dengan cara pengenceran pengukuran BOD didasarkan atas kecepatan degradasi biokimia bahan organik yang berbanding langsung dengan banyaknya zat yang tidak teroksidasi pada saat tertentu. Kecepatan dimana oksigen yang digunakan dalam pengenceran sampel berbanding lurus dengan persentase sampel yang ada dalam pengenceran dengan anggaapan faktor lainnya adalah konstan. Sebagai contoh adalah 10 % pengenceran akan menggunakan sepersepuluh dari kecepatan penggunaan sampel 100% (SAWYER & MC
CARTY, 1978). Dalam hal dilakukan pengenceran, kualitas aimya perlu diperhatikan dan secara umum yang dipakai aquades yang telah mengalami demineralisasi. Untuk analisis air laut, pengencer yang digunakan adalah standard sea water (SSW). Oerajat keasaman (pH) air pengencer biasanya berkisar antara 6,5 - 8,5 dan untuk menjaga agar pH-nya konstan bisa digunakan larutan penyangga (buffer) fosfat.
Untuk menentukan BOD, terlebih dahulu diukur DO nya (DO 0 hari), sementara sampel yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C, selanjutnya setelah 5 hari diukur DO nya (DO 5 hari). Kadar BOD ditentukan dengan rumus : 5 X [ kadar { DO(0 hari) - DO (5 hari) }] ppm Selama penentuan oksigen terlarut, baik untuk DO maupun BOD, diusahakan seminimal mungkin larutan sampai yang akan diperiksa
tidak berkontak dengan udara bebas. Khusus untuk penentuan BOD, sebaiknya digunakan botol sampel BOD dengan volume 250 ml dan semua isinya dititrasi secara langsung. Perhitungan kadar DO nya : DO,ml/L = B/B -2 x 5,6 x 10 x N x V Dimana :
B = volume botol sampel BOD = 250 ml
B - 2 = volume air dalam botol sampel setelah ditambah 1 ml larutan MnCl2 dan 1 ml NaOH - KI. 5,6 = konstanta yang sama dengan ml oksigen ~ 1 mgrek tiosulfat 10 = volume K2Cr2O7 0,01 N yang ditambahkan
N = normalitas tiosulfat
V = volume tiosulfat yang dibutuhkan
untuk titrasi.
Berikut ini adalah tabel nilai DO dan BOD untuk tingkat pencemaran perairan. Tabel 1. Tingkat encemaran perairan berdasarkan nilai DO den BOD Tingkat pencemaran Parameter DO (ppm) BOD Rendah > 5 0 -10 Sedang 0 - 5 10 – 20 Tinggi 0 25 Sumber : WIROSARJONO (1974)
KESIMPULAN
1. Oksigen sangat dibutuhkan oleh semua jasad hidupuntuk pernapasan dan proses metabolisme. Dalam perairan oksigen berperan dalam proses oksidasi den reduksi bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara bebas dan hasil proses fotosintesis.
2. Untuk mengetahui kualitas suatu erairan, parameter oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan enting. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung dengan alat DO meter. 3. Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikatagorikan sebagai perairan yang baik, maka kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 - 10 ppm.
DAFTAR PUSTAKA
ANONIMOUS. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004. Tentang : Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.
HUET, H.B.N. 1970. Water Quality Criteria for Fish Life Bioiogical Problems in Water Pollution. PHS. Publ. No. 999-WP-25. 160-167 pp.
JONES, H.R.E. 1964. Fish and River Pollution. Buther Worth. London : 203 pp. ODUM, E.P. 1971. Fundamental of Ecology.
W.B. Saunder Com. Philadelphia 125 pp. PESCOD, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for
Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp
SALMIN. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 - 46
SAWYER, C.N and P.L., MC CARTY, 1978.
Chemistry for Environmental Engineering. 3rd ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.
SWINGLE, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379 - 406 pp.
WARDOYO, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal 293-300.
WIROSARJONO, S. 1974. Masalah-masalah yang dihadapi dalam penyusunan kriteria kualitas air guna berbagai peruntukan. PPMKL-DKI Jaya, Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air. , eds. Lembaga Ekologi UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 – 15

AWAS BAHAYA PEMUTIH PADA KOSMETIK !


Kulit cerah dan kuning langsat menjadi dambaan wanita. Kulit sehat sendiri sebenarnya tidak harus putih, kulit sehat adalah kulit yang berwarna cerah, tidak kusam, tidak berjerawat, pori-pori sedang, tidak ada flek, kencang dan tidak berkerut. Wanita ingin tampil dan terlihat cantik itu hal yang wajar. Kulit cerah dan kuning langsat menjadi dambaan, agar lelaki pendampingnya sulit melirik wanita pesaing di sekitarnya sehingga wajar bila produk skin whitening menjadi kebutuhan penting mereka.
Penyebab Kulit Kusam
Para wanita sungguh terganggu dengan performa kulit yang buram dan kusam. Penyebab kulit kusam dan tidak sehat serta tidak putih (cerah) antara lain aktifitas pekerjaan yang banyak dilakukan diluar ruang, dalam ruangan yang selalu terpapar oleh cahaya matahari, polusi udara, asap rokok, dan udara AC yang. Penyebab-penyebab tersebut menghasilkan toksin (racun) sehingga merubah warna kulit (pigmen) hingga akhirnya kulit tampak kusam,tidak cerah (putih), sehat. Seperti diketahui, toksin secara alami diproduksi oleh sel kulit karena pengaruh faktor lingkungan, polusi, asap rokok dan stres. Kondisi inilah yang menjadi penyebab kulit tidak cerah (putih). Merawat kulit penting dilakukan. Bukan hanya membuat penampilan jadi menarik saja, melainkan yang terpenting adalah untuk kesehatan kulit. Bahkan kaum adam pun juga sudah mulai peduli akan kulit.”Your skin is important to you,” apa pun warna kulit Anda, apa pun jenis kelamin. Masalah kulit kusam, tidak sehat, tak tampak cerah dan putih bisa menggunakan pemutih skin whitening).
Hingga kini, makna dan pemanfaatan produk skin whitening masih diartikan secara harfiah dimana skin whitening cenderung akan membuat kulit jadi jauh lebih putih, seperti pemutih gigi. Padahal pengertian skin whitening lebih bermaksud pada perawatan kulit wanita agar berpenampilan cerah, sehat dan segar. Artinya whitening atau pemutih kulit yang terdapat dalam produk kosmetik berfungsi untuk mencerahkan, bukan memutihkan karena melindungi kulit dari bahaya radiasi sinar UVA (Ultra Violet A).Namun, memilih produk pemutih (skin whitening) dengan sembarang produk kimia pemutih bisa berakibat fatal.
Alternatif Bahan Pemutih Kulit
Perlu beberapa cara penanganan yang tepat untuk perawatan kulit agar kulit tampak cerah (putih) dan sehat, salah satunya adalah menggunakan produk kosmetik pemutih. Namun tak semua produk kosmetika pemutih aman bagi konsumennya, ada beberapa bahan kimia yang terkadang masih dipergunakan dalam skin whitening (pemutih kulit) antara lain merkuri (Hg) atau air raksa inorganik. Bahan kimia tersebut dipakai buat memutihkan kulit wajah, khususnya di negeri Cina. Pengunaan Merkuri sebagai pemutih bahkan tercatat dalam sejarah masyarakat di zaman Mesir Kuno. Masyarakat Mesir Kuno sudah memanfaatkan Merkuri. Barulah kemudian pada abad 18 dunia kedokteran memakai merkuri sebagai obat sifilis.
Sebenarnya ada jenis bahan pemutih lainnya yang dapat dipergunakan sebagai pemutih yang jauh lebih aman dari merkuri antara lain AHA (Asam Alfa Hidroksi), AHA yang terdapat dalam kosmetik pemutih dipasaran bebas umumnya berkadar 4 % sedangkan yang dianjurkan oleh dokter lebih besar dari 8%.Selain AHA, adalagi bahan pemutih lainnya yaitu Hidroquiron dan Asam Azaleat. Sejumlah inovasi bahan dasar pemutih kini banyak ditemukan, kini banyak produk kosmetik yang menggunakan ekstrak mulberry, bengkoang , jeruk limun, arbutin, vitamin C atau AHA (Asam Alfa Hidroksi), Hydroquinone.
Bahaya Pemutih Bermerkuri
Penggunaan Merkuri sebagai bahan pemutih merupakan satu yang masih tersisa dan kendati menyalahi aturan, masih tetap saja dipasar-bebaskan sebagai bahan berkhasiat dalam krim pemutih kulit. Merkuri inorganik dalam krim pemutih (yang mungkin tak mencantumkannya pada labelnya) bisa menimbulkan keracunan bila digunakan untuk waktu lama. Penggunaan Merkuri walau tidak seburuk efek merkuri gugusan yang tertelan (yang ditemukan dalam ikan yang tercemar dan termakan), tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Kendati cuma dioleskan ke permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk ke dalam darah, lalu memasuki sistem saraf tubuh demikian penjelasan Dr.Silviani Sri Rahayu,Sp.Kk dari Rumah Sakit JMC-Jakarta.
Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai gangguan sistem saraf, seperti tremor, insomnia, kepikunan, gangguan penglihatan, gerakan tangan abnormal (ataxia), gangguan emosi, gagal ginjal, batu ginjal. Oleh karena umumnya tak terduga kalau itu penyakitnya, kasus keracunan merkuri, sering salah di diagnosis sebagai kasus Alzheimer, Parkinson, atau penyakit gangguan otak.Bagi mereka yang memakai krim pemutih sebaiknya perlu selalu mewaspadai jika tidak jelas apa kandungan bahan kimiawinya.
Kinerja pemutih
Menurut Dr.Silviani Sri Rahayu,Sp.KK, pemutih yang baik adalah pemutih yang aman dan efektif, jika memang dinamakan pemutih harus menghasilkan sesuai dengan yang dijanjikan yaitu dapat memutihkan. Kerja pertama pemutih kulit adalah menghancurkan epidermis atau lapisan kulit teratas dari wajah maupun tubuh. Bahan seperti merkuri, hydroquinone atau steroid memang terbukti reaktif dan sangat cepat melakukan proses pengangkatan ini. Secara teori, pemutihan kulit bisa saja dilakukan dengan penipisan kulit.
Misalnya dengan luar menggunakan bahan scrubbing dari bengkuang (secara tradisional) atau bahan kimia. Tapi kalau kulit tipis terus-terusan terpapar matahari, akibatnya akan berubah warna jadi merah atau bahkan terbakar. Proses pemutihannya pun, membutuhkan waktu selama beberapa bulan. Pemakaian pemutih yang benar adalah hanya pada kulit yang berubah warna akibat terpapar sinar matahari. Untuk yang ingin berkulit putih, rajin-rajinlah membersihkan kulit dan hindari matahari.
Lebih lanjut Dr.Silviani Sri Rahayu,Sp.KK dari Rumah Sakit JMC-Jakarta, mengatakan bahwa masyarakat perlu lebih hati-hati dalam memilih dan menggunakan produk pemutih, kenali dahulu seperti apa pemutih yang aman bagi tubuh dan wajah. Ciri-ciri kosmetik produk pemutih yang berbahan merkuri umumnya tampak pearly (putih mengkilap). Kendati tidak mencantumkan kandungan merkuri, tetap tidak boleh yakin pasti tidak bermerkuri. Jadi, baca terlebih dahulu label dan aturan pakai yang tertera dalam kemasan produk skin whitening (pemutih) yang telah diseleksi dan diteliti kandungan kimia dan keamanannya bagi tubuh oleh BPOM atau Depkes. Mencegah lebih baik daripada mengobati. (ISMAYANTI)@ Tips Memilih Produk Kosmetik Berpemutih :
  • label atau kandungan zat yang terdapat dalam produk kosmetik pemutih.
  • Jangan mudah termakan iklan atau bujuk rayu yang mengiming-imingi hasil extracepat dari produk kosmetik pemutih.
  • Bertanya pada orang yang ahli dan mengetahui tentang pemutih dan efeknya.
  • Hati-hati dalam membeli dan memilih produk kosmetik yang tampak pearly(mengkilat), karena bisa saja mengandung bahan aktif merkuri (HG)

  • Limbah Jins Positif Mengandung Zat Kimia
  • PEMALANG - Limbah pencucian jins yang dikeluhkan warga Desa Lowa dan
  • Sidorejo, Kecamatan Comal, yang dibuang pada saluran irigasi itu positif
  • mengandung zat kimia NA dan SAR yang tinggi. Jika pembuangan limbah tersebut
  • masih terus dilakukan, maka akan terjadi pencemaran sungai.
  • Kasubag Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Bagian Lingkungan Hidup
  • Pemkab Pemalang Joni mengatakan, penilaian terhadap limbah cair pencucian jins
  • itu, berdasarkan hasil penelitian contoh limbah yang dilakukan di laboratorium
  • swasta Sucofindo Semarang.
  • "Untungnya, kini usaha pencucian jins itu sudah ditutup sendiri oleh pemiliknya.
  • Andai kata saat ini belum tutup dan masih tetap berjalan, maka lambat laun sungai
  • tersebut akan tercemar," katanya, kemarin.
  • Hasil pemeriksaan di laboratorium terhadap air limbah pabrik loundry milik H
  • Waryono di Desa Lowa itu dinyatakan, bahwa limbah tersebut akan mencemari
  • sungai, apalagi jika usaha pencucian yang menggunakan zat kimia itu masih tetap
  • berjalan. Namun, kadar zat kimia NA dan SAR yang ditemukan dalam contoh air
  • limbah yang diteliti itu akan menurun dengan sendirinya, terlebih jika hujan sudah
  • turun dan air sungai kembali penuh. Sebab, zat tersebut akan mudah hanyut
  • terbawa air.
  • Ketika warga mengeluhkan pencemaran, saat itu sungai dalam keadaan kering,
  • sehingga genangan air limbah kelihatan mencolok sekali. Selain itu, menimbulkan
  • bau tidak sedap.
  • Tidak Sehat
  • Sementara itu, mengenai hasil penelitian laboratorium terhadap contoh air sumur
  • milik seorang penduduk Daryono, dia menjelaskan, tidak tercemar limbah
  • pencucian jins. Namun, memang kualitas airnya yang tidak sehat. Hal itu
  • disebabkan kondisi tanahnya yang jelek dan sudah terkena rembesan air sungai.
  • Air sungai yang merembes ke dalam sumur itu, kualitasnya menurun sejalan
  • dengan musim kemarau dan mengeringnya sungai. Munculnya bau tidak sedap dari
  • air sumur itu bukan karena limbah jins, tapi dari limbah domestik atau limbah
  • rumah tangga, serta limbah pertanian yang biasanya dibuang ke sungai.
  • Limbah domestik mengandung zat Total Suspendit Solid (TSS), Ferum (Fe), dan
  •  Mangan (Mn). Karena itu, air sumur milik Daryono tidak layak lagi dikonsumsi.
  • Pemilik sumur lebih baik mencari air bersih di tempat lain untuk kebutuhan seharihari.
  • Dari penelitian air sumur milik Daryono itu, Bagian LH menyimpulkan, sumur
  • penduduk tidak tercemar. Pencemaran hanya terjadi di lokasi pembuangan dan
  • tidak sampai memengaruhi sumur warga di sekitar usaha pencucian jins. Oleh
  • karena itu, warga diminta tenang dan tidak perlu khawatir.
  • Seperti pernah diberitakan, limbah pencucian jins dari tempat usaha milik H
  • Waryono dikeluhkan sejumlah warga Desa Sidorejo dan Lowa. Sebab, limbah itu
  • menggenangi saluran irigasi dan baunya tidak sedap. Usaha tersebut sejak
  • dikeluhkan warga langsung ditutup oleh pemiliknya sendiri. (sf-74b)

PENGARUH PENAMBAHAN BIOSIDA PENGOKSIDASI TERHADAP KANDUNGAN KLORIN
UNTUK PENGENDALIAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME PADA AIR PENDINGIN
SEKUNDER RSG-GAS. Pertumbuhan Mikroorganisme merupakan salah satu permasalahan yang timbul
pada sistem air pendingin resirkulasi terbuka. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pada sistem
pendingin sekunder RSG-GAS ditambahkan bahan kimia biosida pengoksidasi. Bahan kimia ini akan
merusak sel mikroorganisme dengan daya oksidasinya, sehingga mengakibatkan kematian mikroorganisme.
Untuk mengetahui pengaruh penambahan biosida pengoksidasi dilakukan pengukuran kandungan klorin
dalam air pendingin sekunder sebelum dan sesudah penambahan biosida pengoksidasi. Pengukuran
kandungan klorin dilakukan dengan metode DPD (N,N-dietil-p-fenilendiamin). Dari hasil pengukuran
menunjukkan bahwa kandungan klorin dalam air pendingin sekunder meningkat setelah penambahan
biosida pengoksidasi, tetapi kemudian turun sebagai indikasi adanya klorin yang bereaksi dengan
mikroorganisme dan secara aktif menghilangkan mikroorganisme tersebut.
  • Kata kunci: biosida pengoksidasi, klorin, mikroorganisme
PENDAHULUAN
Sistem pendingin sekunder adalah tempat
pembuangan panas yang terakhir dari reaktor.
Panas yang terbentuk pada sistem pendingin
primer dipindahkan ke sistem sekunder melalui
alat penukar panas dan akhirnya dibuang ke
atmosfir melalui menara pendingin. Sistem
Pendingin sekunder Reaktor Serba Guna G.A
Siwabessy (RSG-GAS) merupakan sistem air
pendingin resirkulasi terbuka. Salah satu
permasalahan yang timbul pada sistem air
pendingin resirkulasi terbuka adalah
  • pertumbuhan mikroorganisme. Keberadaan
mikroorganisme dalam air serta dalam jaringan
pipa distribusi akan menimbulkan lendir yang
merupakan sekresi dari mikroorganisme. Lendir
ini akan mengikat padatan yang tersuspensi dan
terakumulasi pada persimpangan pipa distribusi
sehingga akan mengurangi debit air dalam
sistem pendingin. Disamping itu adanya
mikroorganisme dengan tingkat kelekatan yang
tinggi pada pipa akan menimbulkan korosi dan
kerak pada pipa sistem pendingin Hal ini akan
mempengaruhi kinerja sistem pendingin
sekunder Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy.
Di RSG-GAS untuk mengendalikan
pertumbuhan mikroorganisme dilakukan
dengan penambahan inhibitor biosida
pengoksidasi dan biosida bukan pengoksidasi.
Biosida pengoksidasi yang digunakan adalah
mengandung klorin (natrium hypochloride
(NaOCl), yang akan bekerja secara langsung
membunuh mikroorganisme sedangkan
komposisi non-biosida pengoksidasi adalah 5-
Chloro-2-Methyl-4-Isothiazolin-3-One dan 2-
Methyl-4-Isothiazolin-3-One yang berperan
menekan pertumbuhan mikroorganisme dalam
sistem pendingin sekunder[1]. Klorin merupakan
oksidator kuat yang akan membunuh bakeri
secara langsung. Klorin merupakan zat aktif
yang mampu menghilangkan mikroorganisme
dalam air melalui reaksi klorinasi. Penambahan
biosida pengoksidasi pada sistem pendingin
sekunder dilakukan dua hari sekali pada saat
sistem pendingin sekunder beroperasi. Untuk
mengetahui pengaruh penambahan inhibitor
biosida pengoksidasi maka dilakukan analisis
kandungan klorin sebelum dan setelah
penambahan inhibitor biosida pengoksidasi.
Penentuan kandungan klorin dalam air
pendingin sekunder ditentukan dengan metode
DPD (N,N-dietil-p-fenilendiamin) dan
menggunakan Spektrophotometer DR/2400
merk Hach .
TEORI
Biosida pengoksidasi merupakan bahan
kimia bersifat oksidator yang berfungsi untuk
menghilangkan pertumbuhan mikroorganisme.
Bahan kimia ini akan membunuh
mikroorganisme dengan daya oksidasinya[2,3]
Sebagai bahan kimia yang biasa digunakan
sebagai biosida pengoksidasi adalah senyawa
klor atau klorin hal ini disebabkan oleh klorin
merupakan bahan kimia yang murah dan
disamping itu masih mempunyai daya
desinfeksi sampai beberapa jam setelah
penambahannya.
Senyawa klor atau klorin yang berfungsi
sebagai biosida pengoksidasi dapat berasal dari
gas Cl2, atau dari garam-garam NaOCl dan
Ca(OCl)2 (kaporit)[2,4,5].
Jika klor sebagai gas Cl2 dilarutkan dalam
air, maka akan terjadi reaksi hidrolisa yang 
cepat, sebagai berikut:
Cl 2 + H 2O H + + Cl + HOCl (1)
klorida asam
hipoklorit
Asam hipoklorit akan terurai sesuai
reaksi berikut:
HOClOCl+H+ (2)
hipoklorit
Ion klorida (Cl-)merupakan ion yang
tidak aktif , sedangkan Cl2, HOCl, dan OCldianggap
sebagai bahan yang aktif. Asam
hipoklorit (HOCl ) yang tidak terurai adalah zat
pembasmi yang paling efisien bagi bakteri.
Kesetimbangan antara molekul dan ion ini
dijelaskan pada grafik berikut,
Gambar 1. Kesetimbangan Antara Cl2 , HOCl, dan
OCl - dan Hubungannya dengan Nilai pH
Pada T=25oC.[4]
Dari Gambar 1, terlihat bahwa proses
  • desinfeksi lebih efisien pada suasana netral atau


bersifat asam lemah. Namun, tetap dianggap
bahwa klor tersedia bebas yaitu [Cl2], [OCl-],
dan [HOCl].
Kaporit dan NaOCl akan bereaksi sama
seperti Cl2 yang dilarutkan dalam air, yaitu
seperti reaksi berikut.
( ) ( )2 Ca OCl2 +H2O2HOCl + Ca OH (3)
(kaporit)
HOClH+ + OCl(4)
NaOCl+H2OHOCl+ NaOH
(hipoklorit)
HOClH+ + OCl(5)
Zat amoniak (NH3) dalam air akan akan
bereaksi dengan klor atau asam hipoklorik dan
membentuk monokloramin, dikloramin atau
trikloramin tergantung dari pH , perbandingan
konsentrasi pereaksi dan suhu . Reaksi-reaksi
tersebut adalah sebagai berikut.
NH3 + HOCl NH2Cl + H2O pH 7 (7)
(monokloramin)
NH2Cl + HOCl NH2Cl + H2O 4 pH 6 (8)
(dikloramin)
NH2Cl + HOCl NCl3 + H2O pH < 3 (9)
(trikloramin)
Bila pH larutan ≥ 7 , terbentuk
monokloramin (reaksi 7), dan sekaligus sedikit
dikloramin. Antara 4 ≤ pH ≤ 6 akan terbentuk
dikloramin (reaksi 8). Kloramin juga terbentuk
sebagai hasil reaksi antara klor dan salah satu
jenis amin organis (-NH2) seperti protein.
Reaksi (7) berlangsung cepat sedangkan
reaksi-reaksi lainnya agak lambat sehingga
faktor waktu kontak menjadi penting. Semua
klor yang tersedia dalam air sebagai kloramin
disebut klor tersedia terikat, sedangkan Cl2,
OCl- dan HOCl disebut klor tersedia bebas.
Klor tersedia terikat juga mempunyai daya
disinfeksi, walaupun tidak seefesien klor
tersedia bebas.
Biosida pengoksidasi seperti klorin,
hipoklorit, dan senyawa organoklorin lainnya,
akan mematikan seluruh organisme dalam
sistem secara cepat, jika klorin bebas
melakukan kontak langsung dengan organisme
dengan cukup lama dan dengan dosis yang
cukup kuat. Klorin juga mampu menjaga
keefektifan kerjanya, karena klorin merupakan
zat aktif yang mampu menghilangkan
mikroorganisme dalam air melalui reaksi
klorinasi.
Pengendalian Pertumbuhan
Mikroorganisme pada Sistem Pendingin
Sekunder RSG-GAS[6]
Untuk mengendalikan pertumbuhan
Mikroorganisme pada Sistem Pendingin
Sekunder reaktor G.A Siwabessy digunakan
bahan kimia inhibitor biosida pengoksidasi dan
biosida bukan pengoksidasi. Biosida
pengoksidasi yang digunakan adalah natrium
hypochloride (NaOCl), yang akan bekerja
secara langsung membunuh mikroorganisme
sedangkan komposisi biosida bukan
pengoksidasi adalah 5-Chloro-2-Methyl-4-
Isothiazolin-3-One dan 2-Methyl-4-
Isothiazolin-3-One yang berperan menekan
pertumbuhan mikroorganisme[1]. Disamping itu
ditambahan biodispersant yang digunakan
untuk membersihkan bakteri yang telah mati.
Penambahan inhibitor biosida
pengoksidasi dilakukan dua hari sekali
sedangkan penambahan inhibitor biosida bukan
pengoksidasi dilakukan pada awal dan akhir
pengoperasian sistem pendingin sekunder.
Sebagai parameter kontrol penambahan
inhibitor biosida pengoksidasi dilakukan
pengukuran kandungan klorine dalam air
pendingin sekunder .
Adanya mikroorganisme pada sistem
pendingin sekunder dapat dilihat pada
penentuan total bakterinya dengan
menggunakan dipslide test. Jika total bakterinya
kurang dari 103 bakteri/ml maka pada sistem
pendingin sekunder frekuensi tumbuhnya
mikroorganisme/lumut rendah, jika total bakteri
besar dari 106 bakteri/ml akan mempercepat
tumbuhnya mikroorganisme/lumut.


Bertani tanpa bahan kimia memberikan hasil
tinggi
Sri Widiastuti - 10 May 2004 19:34
Hasil uji coba penanaman padi dengan pupuk kandang yang dilakukan oleh petani di
Subang di lahan seluas 1.500 meter persegi memberikan hasil total sembilan
kwintal gabah kering. Hasil panen ini lebih tinggi dari hasil sistem pertanian
konvensional yang hanya menghasilkan tujuh kwintal gabah kering. Hingga kini
hasilnya tidak dijual, tetapi untuk dikonsumsi sendiri dan sebagian akan dijadikan
benih untuk musim tanam berikutnya.
Lahan seluas 1500 meter persegi, kata kang Boy, sebenarnya bisa menghasilkan
gabah kering sebanyak 12 kwintal. Namun karena 40 % areal terserang hama tikus,
maka hanya diperoleh 5,5 kwintal gabah kering dengan kualitas baik. Sedangkan
lahan yang terserang tikus, masih bisa menghasilkan 3,5 kwintal gabah kering,
meskipun kualitasnya tidak sebaik yang tidak terserang.
Uji coba ini dilakukan oleh Arinda, sebuah LSM pendamping petani di Subang. Arinda
baru pertama kali melakukan kegiatan pertanian tanpa menggunakan pupuk dan
pestisida kimia buatan. Mereka menggunakan lahan milik H Rifai, yang berada di
desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat dan
terletak kurang lebih dua kilometer dari laut. Benih padi yang mereka gunakan
adalah jenis IR 64, sebanyak delapan ons.
Menurut Lilik Rusmana, koordinator lapangan kegiatan ini, pola tanam yang
digunakan adalah Rancang Intensifikasi dengan jarak tanam antar bibit adalah 30 cm
x 30 cm. Pola tanam ini mengikuti anjuran Kantor Pengawasan Penyuluhan Pertanian
(KP3).
Untuk pemupukan digunakan pupuk dari kotoran kambing dan sampah pasar (sisa
ikan, sayuran) yang terlebih dahulu difermentasi dengan menggunakan zeolit, kata
Garna Abdullah Ketua Arinda yang biasa disapa Kang Boy. Sedangkan untuk
mengusir hama mereka menggunakan biopestisida cair yang terbuat dari tumbuhan
yang beraroma menyengat.
Riyanto, Ketua KP3, mengharapkan dengan keberhasilan ini Arinda juga dapat
menjadi pemasar produk pertanian "organik" di wilayah Subang. Untuk mendukung
pertanian tanpa kimia, KP3 akan mengajak masyarakat sekitarnya untuk bertani
secara "organik," atau dalam Bahasa Sunda disebut malire tatanen buhun yang
berarti melirik pertanian dahulu yang ramah lingkungan.
Fasilitas Berita

Bibit Bakau Tercemar Minyak Warga Sungai
Apit Rugi
Sungai Apit, Kompas - Sejak lima bulan terakhir, ratusan
warga Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten
Siak, Provinsi Riau, dirundung masalah rusaknya jutaan
bibit bakau siap tanam yang disebabkan adanya
tumpahan minyak bumi yang mencemari air laut. Mereka
mengeluhkan lambannya proses penyelesaian meski
aparat keamanan dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Siak sudah mendapat laporan mengenai kasus ini.
"Di desa ini ada sekitar tiga juta bibit bakau yang rusak
karena seluruh bagiannya tertutup minyak. Kami mulai
mengembangkan tahun lalu, sudah banyak uang yang
kami keluarkan, tetapi sekitar lima bulan lalu tiba-tiba
semuanya rusak," kata Jafar (35), warga Desa Bunsur,
Jumat (24/12).
Minyak bumi juga diduga mencemari bibit bakau di
empat desa lain di sekitar Selat Lalang, Kabupaten Siak.
Menurut Jafar, seluruhnya terdapat lebih dari sembilan
juta bibit bakau yang rusak akibat tumpahan minyak.
Kerugian yang diderita warga lebih dari Rp 2 miliar.
Ratusan pembibit bakau di Desa Bunsur, yang memilih
Jafar sebagai ketua, menuntut pertanggungjawaban PT
Kondur Petroleum atas kerugian yang ditimbulkan itu.
Jafar mengklaim minyak yang bocor dari pipa-pipa milik
perusahaan pertambangan itulah penyebab rusaknya
bibit bakau milik warga. Tuntutan warga itu berbuntut
unjuk rasa menduduki sumur minyak milik PT Kondur
Petroleum.
Mereka memaksa PT Kondur Petroleum mengganti
seluruh kerugian akibat rusaknya bibit bakau. Supervisor
Public Relations and Media Officer Kondur Petroleum SA
Dahrul Hidayat mengakui ada kebocoran pipa penyalur
minyak bumi dari sumur minyak menuju kapal
penampung di Selat Lalang.
"Kebocoran itu terjadi 30 Juli 2004, tetapi hanya sekitar
50 liter minyak yang sempat terlepas di laut. Jumlah itu
sangat kecil dan tidak menimbulkan pencemaran laut,"
kata Dahrul, Jumat.
Namun, karena gencarnya tuntutan warga, pihaknya
mau bekerja sama dengan aparat setempat menyelidiki
kasus ini dan menyediakan dana sekitar 10 persen dari
total kerugian warga sebesar Rp 275 juta untuk
rehabilitasi kerusakan bibit bakau.

Pencemaran Makanan Secara Kimia dan Biologis
Dra. Nurmaini, MKM
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
I. PENDAHULUAN
Bahan makanan adalah hal sangat penting bagi kehidupan manusia seperti
karbohidrat, lemak , protein, vitamin dan mineral. Disamping itu ada zat yang
ditambahkan baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja yang akan
mempengaruhi kualitas makanan itu sendiri. Penambahan tersebut bisa berbahaya
bagi kesehatan manusia baik secara sengaja maupun tidak sengaja yaitu apabila
bahan makanan ditambahkan zat aditif yang bersifat sintetis.
Racun dalam makanan ternyata bisa membahayakan orang yang
memakannya apabila higiene dan sanitasinya dalam mengolah bahan makanan
tersebut tidak cermat. Bahan makanan berguna untuk sumber tenaga, pembangun,
pengatur bahkan penyembuh sakit. Namun, bisa juga sebagai media perantara bagi
vektor, mikroorganisme dan berbagi jenis bahan kimia, keracunan bahan makanan
ini oleh bahan kimia erat kaitannya dengan proses produksi dan distribusinya. Dalam
proses produksi sering terjadi kelalaian bahkan kesengajaan menggunakan bahan
kimia sebagai zat tambahan dalam makanan seperti zat pewarna, zat pengawet dan
sebagainya. Kasus biskuit beracun di Indonesia merupakan bukti dimana bahan
makanan tercemar dengan Sodium Nitrat dan menyebabkan kematian bagi
konsumen yang memakannya. Pencemaran makanan bisa juga terjadi melalui rantai
makanan di lingkungan seperti kasus Itai-Itai Diseases di negara Jepang.
Selain oleh bahan kimia pencemaran makanan bisa juga disebabkan oleh
faktor biologis dan ini menjadikan makanan tersebut menjadi mediator masuknya
kuman penyakit ke dalam tubuh. Makanan yang telah dihinggapi mikroorganisme
tersebut mengalami penguraian sehingga dapat mengurangi nilai gizi dan
kelezatannya bahkan dapat menyebabkan sakit dan kematian bagi yang
mengkonsumsinya. Pertumbuhan mikroorganisme dalam makanan dipengaruhi oleh
faktor intrinsik, ekstrinsik, implisit dan pengolahan. Beberapa kasus pernah terjadi di
Indonesia.
2. PENCEMARAN MAKANAN OLEH BAHAN KIMIA
Berbagai fenomena yang berhubungan dengan keracunan makanan banyak
kita jumpai, kasus yang cukup terkenal mengenai keracunan makanan oleh bahan
kimia adalah tragedi Minamata Diseases. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada
orang yang bertempat tinggal di sekitar teluk Minamata Jepang tahun 1953, penyakit
ini disebabkan oleh senyawa Air Raksa (Hg) yang biasanya dihasilkan oleh bahan
kimia yang dipakai dalam fungisida dan industri plastik dan limbahnya dibuang di
sekitar teluk, masyarakat yang mengkonsumsi ikan dan kerang yang ada di pinggir
teluk tersebut terpapar dalam jangka waktu lama, yang pada akhirnya menimbulkan
penyakit.
Di Indonesia kasus biskuit beracun yang terjadi tahun 1992 penambahan
kandungan Sodium Nitrat yang berlebihan dalam biskuit. Nityrit yang menyebabkan
keracunan pada anak-anak dan orang dewasa, dalam bantuk kalium atau natrium
biasanya dipakai sebagai bahan pengawet makanan. Misalnya dipakai untuk
mengawetkan daging dengan mencegah pertumbuhan kuman yang bisa hidup tanpa
oksigen (anaerob) . Nitrit mengubah lingkungan kuman sehingga pertumbuhan
kuman tidak memungkinkan. Pengolahan kue juga bisa memakai bahan pengawet
ini, tapi ada batas tertentu yang bisa ditoleransi oleh tubuh atau Nilai Ambang Batas.
Ó 2001 digitized by USU digital library 2
Jika melebihi NAB makan akan menimbulkan efek keracunan bagi orang yang
mengkonsumsinya.
Jika seseorang memakan makanan yang mengandung benda asing baik
organik maupun anorganik yang bersifat racun , sehingga mengubah sifat asli
makanan tersebut dan menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan bagi yang
memakannya , hal ini disebut Food Poisoning (keracunan makanan). Ada beberapa
hal yang menjadi penyebab timbulnya kasus keracunan makan makanan ditinjau
dari sudut kimia :
2.1. Makanan terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia
Kontaminasi karena bahan kimia sering terjadi karena kelalaian atau
kecelakaan , seperti meleltakkan pestisida dengan bahan makanan, kelalaian dalam
pencucian sayuran atau buah-buahan sehingga sayur atau buah-buahan tersebut
masih mengandung sisa pestisida dan kelalaian memasukkan bahan kimia yang
seyogyanya dipakai untuk kemasan dimasukkan ke dalam makanan. Bahan kimia
yang terdapat dalam bahan makanan dengan kadar yang berlebih akan bersifat
toksik bagi manusia. Beberapa zat yang sering menimbulkan keracunan manusia
adalah :
1. Zinc, terdapat pada perlatan dapur akan mengalami reduksi bila kontak
dengan bahan makan yang bersifat asam.
2. Insektisida, keracunan ini terjadi karena mengkonsumsi makanan yang
masih mengandung residu pestisida, seperti pada syran dan buah-buahan.
3. Cadmium, keracunan ini bisa terjadi karena Cd yang terdapat pada
peralatan dapur dengan kontak dengan makanan yang bersifat asam.
4. Antimonium, berasal dari perlatan dapur yang dilapisi dengan email
kelabu murahan.
2.2. Penggunaan Zat Aditif
Zat aditif bahan makanan biasanya digunakan secara sengaja , zat
tambahan tadi dapat menyebabkan makanan lebih sedap, tampak lebih menarik, bau
dan rasa lebih sedap, dan makanan lebih tahan lama (awet) , tetapi karena makanan
tersebut dapat berbahaya bagi manusia maka disebut zat pencemar.
WHO mensyaratkan zat tambahan itu seharusnya memenuhi kriteria sebagai
berikut : (1). Aman digunakan, (2). Jumlahnya sekedar memnuhi kriteri pengaruh
yang diharapkan, (3). Sangkil secara teknologi, (4). Tidak boleh digunakan utnuk
menipu pemakai dan jumlah yang dipakai haruslah minimal.
Pemakaian zat tambahan yang aman digunakan merupakan pertimbangan
yang penting , walaupun tidak mungkin untuk mendapatkan bukti secara mutlak
bahwa suatu zat tambahan yang digunakan secara khusus tidak toksik bagi semua
manusia dalam semua kondisi, paling tidak pengujian secara sifat-sifat fisiologis,
farmakologis, dan biokemis pada binatang percobaan yang dusulkan dapat dipaki
sebagai dasar yang beralasan bagi penilaian pemakian suatu zat tambahan pada
bahan makanan.
Akan tetapi permasalahan yang sering muncul adalah pihak produsen
makanan lebih memperetimbangkan segi untungnya dari dampak timbul bagi
kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi makanan yang dihasilkannya. Karena
pertimbangan ini sering terjadi pemalsuan dalam perdagangan makanan, kalau
pemalsuan sebatas merk dagang yaitu dengan meniru nama produk yang digemari
masyarakat tidak akan memberikan masalah yang besar bagi kesehatan masyarakat,
tetapi bila pemalsuan tersebut bertujuan agar produk yang mestinya dibuang baik
karena kesalahan produksi, maupun telah melebihi masa kadaluarsa, bila dipasarkan
kembali akan sangant membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Ada beberapa
cara pemalsuan yang sering terjadi dan ini dilakukan oleh penjual /produsen :
Ó 2001 digitized by USU digital library 3
ª  Menghilangkan bau, seperti penambahan cuka pada ikan yang telah
membusuk
ª  Memberikan kesegaran palsu, misalnya dengan menambahkan zat warna pada
daging
ª  Menambahkan zat putih pada tepung.
ª  Menambahkan tanggal kadaluarsa suatu produk
ª  Menyalurkan kembali makanan yang telah kadaluarsa melalui paket-paket
hadiah atau parcel.
Selain penyalahgunaan zat aditif tersebut bisa toksik pada seseorang yang
mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat tambahan yang melebihi kadarnya
dalam waktu relatif lama . Sifat toksik tersebut yang muncul setelah terpapar dalam
rentang waktu relatif lama, seperti penggunaan sakarin dan siklamat (pemanis
buatan) akan meracuni hati, penggunaan Monosodium Glutamat (penyedap rasa)
akan merusak jaringan otak dan banyak bahaya zat tambahan lain yang bisa
membahayakan kesehatan manusia.
2.3. Penggunaan bahan makanan seraca alamiah mengandung racun
Keracunan makanan bisa terjadi akibat racun secara alamiah terdapat dalam
makanan itu sendiri, keracunan seperti itu terjadi karena kelalaian atau
ketidaktahuan masyarakat yang mengkonsumsinya, misalnya keracunan singkong
karena adanya asam sianida (HCN) yang pada dosis tertentu bisa menyebabkan
kematian. Singkong yang dikonsumsi tidak dicuci dengan benar atau tidak sempurna
pengolahannya. Demikian juga dengan keracunan jengkol karena adanya kristal
asam jenkolat yang bisa menyumbat saluran air seni apabila kandungan jengkolat
yang terakumulasi dalam tubuh.
3. PENCEMARAN MAKANAN SECARA BIOLOGIS
Makanan yang disukai manusia pada umumnya disukai oleh mikroorganisme
, seperti virus, bakteri dan jamur yang menyerang bahan makanan yang mentah
seperti pada sayuran, buah-buahan, susu, daging, dan banyak makanan yang sudah
dimasak seperti nasi. Roti, kue dan lauk pauk.
Makanan yang telah dihinggapi mikroorganisme itu mengalami penguraian
sehingga dapat mengurangi nilai gizi dan kelezatannya bahkan makan yang telah
mengalami penguraian dapat menyebabkan sakit bahkan kematian. Bakteri yang
tumbuh di dalam makanan mengubah makanan tersebut menjadi zat organik yang
berkurang energinya. Populasi mikroba pada berbagai jenis bahan pangan umumnya
sangat spesifik, tergantung dari jenis bahan pangannya, kondisi lingkungan dan cara
penyimpanannya dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahanpangan
adalah berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba dalam pangan dapat bersifat fisik, kimia atau
biologis yang meliputi :
1. Faktor intrinsik, merupakan sifatfisik, kimia dan struktur yang dimiliki oleh
bahan pangan tersebut, seperti kandungan nutrisi, pH, senyawa mikroba.
2. Faktor ekstrinsik, yaitu kondisi lingkungan pada penganan dan
penyimpanan bahan pangan seperti suhu, kelembaban, susunan gas di
atmosfer.
3. Faktor implisit, merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh mikroba itu
sendiri.
4. Faktor pengolahan, karena perubahan mikroba awal sebagai akibat
pengolhan bahan pangan, misalnya pemansan, pendingan, radiasi dan
penambahan bahan pengawet.
Ó 2001 digitized by USU digital library 4
Beberapa jenis /spesies dari bakteri saproba dan bakteri patogen dapat serta
tumbuh dan berkembang biakdengan baik jika makanan yang dihinggapi itu
mempunyai pH, kelembaban dan temperatur yang menguntungkan bagi kehidupan
mereka, toksin yang dihasilkan ada dua (2) pertama dapat berupa enterotoksin,
yaitu toksin yang mengganggu alat-alat pencernaan, kedua neurotoksin yaitu toksin
yang mengganggu urat syaraf kita. Diantara racun-racun tersebut racun yang
dihasilkan oleh Clostridium Botulinum, seperti makanan dalam kaleng, spora-spora
dari bakteri tidak mati dalam proses pasteurisasi.
Dalam keadaan tertutup (anaerob) dari suhu yang menguntungkan, maka
spora-spora tersebut dapat tumbuh menjadi bakteri serta menghasilkan toksin,
racun yang dihasilkan itu tidak mengganggu alat pencernaan melainkan
mengganggu urat saraf tepi , seperti racun Botulinum type A, B., C, D, dan E.
Diduga Clostridium Welchii dan Perfringens juga menghasilkan Botulinum .
Dibeberapa daerah Jawa Tengah pernah terjadi keracunan setelah
mengkonsumsi tempe Bongkrek ( dari ampas kelapa) , racun yang terdapat yaitu
asam Bongkrek yang dihasilkah Pseudomonas Cocovenenans. Kemudian di Jawa
Barat keracunan Oncom yang terbuat dari kacanag tanah atau ampas tahu, sedang
raginya berupa jamur Monilia Sitophiladari spesies jamur tak sempurna , keracunan
terjadi dari jenis jamur Neurospora Sitophila.
Makanan yang ditumbuhi Aspergillus Flavus dapat mengandung racun
Aflatoksinyang berbahaya sekali jika sampai termakan, keracunan juga dapat
diakibatkan karena memakan udang terutama pada kondisi orang tertentu.
Perlakuan panas yang tidak cukup pada pengalengan daging seringkalimenyebabkan
spora bakteri pembusuk jenis Clostridia anaerob mengalami germinasi. Pencemaran
oleh Clostridium Aerofoeticum dan C. Welchii akan menimbulkan bau busuk. Bakteri
fakultatif anaerob seperti Pseudomonas putrafaciens, Flavobakterium Elastolyticum
atau Protues Vulganbis dapat menyebabkan dekomposisi protein yang akan
menghasilkan campuran berbagai metabolit berbau busuk ini berasal dari
pencemaran bahan-bahan organik yang mengandung senyawa nitrogen yang bobot
molekulnya rendah seperti asma amino dan protein.
4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Penggunaan zat aditif (tambahan) dalam makanan dan minuman sangat
berbahaya bagi kesehatan masyaratkan, terutama zat tambahan bahan kimia
sintetis yang toksik dan berakumulasi dalam tubuh untuk jangka waktu yang
relatif lama bagi yang menggunakannya.
2. Keracunan makanan bisa disebabkan oleh karena kelalaian dan ketidaktahuan
masyarakat dalam pengolahannya , seperti keracunan singkong.
3. Keracunan makanan bisa juga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
memungkinkan mikroba untuk berkembang biak lebih cepat, seperti karena
faktor fisik, kimia dan biologis
4.2. Saran
1. Bagi produsen makanan hendaknya jangan hanya ingin mendapat keuntungan
yang besar tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan bagi masyarakat yang
mengkonsumsinyayaitu dengan menggunakan zat aditf yang tidak
membahayakan bagi kesehatan
2. Bagi Dinas kesehatan c/q Pengawasan makanan dan minuman hendaknya
sebelum mengeluarkan nomor registrasi mengetahui kandungan zat yang ada
didalamnya terutama yang membahayakan kesehatan.
3. Bagi instansi terkait hendaknya memberikan informasi kepada khalayak luas
tentang bahan kimia atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan
dalam makanan dan minuman yang mengganggu kesehatan.

PENGARUH BAHAN ATAP KANDANG DAN STRAIN TERHADAP PENAMPILAN AYAM PEDAGING

N. K. ASTININGSIH

Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana Denpasar
RINGKASAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Dajan Peken, Tabanan-Bali, yang terletak 50 m dari permukaan laut untuk mempelajari pengaruh jenis bahan atap kandang dan strain terhadap penampilan ayam pedaging umur 2 – 6 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh atap daun kelapa dan atap seng terhadap penampilan ayam pedaging. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 2 dengan tiga kali ulangan. Sebagai faktor pertama adalah bahan atap kandang daun kelapa (Kl) dan Seng (K2) dan faktor kedua adalah strain ayam pedaging, yaitu strain CP. 707 (Sl) dan Strain MF. 202 (S2). Kandang yang digunakan sistem litter dan tiap petak kandang terdiri atas empat ekor ayam broiler umur dua minggu dengan berat badan yang homogen. Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata (P>0,05) antara penggunaan jenis bahan atap kandang dengan strain terhadap penampilan ayam pedaging. Penggunaan bahan atap kandang daun kelapa menghasilkan pertambahan berat badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandang atap seng (P<0,05). Penampilan ke dua strain ayam pedaging tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan atap kandang daun kelapa memberikan penampilan ayam broiler yang lebih baik daripada bahan atap seng, sedangkan strain tidak berpengaruh nyata.
Kata kunci : Jenis bahan atap kndang, strain, penampilan, broiler

Pencemaran Limbah Minyak Semakin Meluas
Balikpapan, Kompas - Limbah minyak mentah yang mencemari pantai
Balikpapan, Kalimantan Timur, kini semakin luas. Meski di bagian bibir pantai
limbah minyak berupa kerak (sludge) berwarna hitam pekat mirip aspal itu
sebagian sudah dibersihkan, dari tengah laut datang limbah baru yang terbawa
ombak.
Berdasarkan pemantauan hari Kamis (1/7), jika sebelumnya limbah minyak
mentah hanya mencemari pantai Balikpapan di belakang Pengadilan Negeri
Balikpapan, kini limbah minyak sudah bergerak sekitar dua kilometer ke arah
timur, sehingga luas pantai yang tercemar limbah sekitar lima kilometer.
Diterjang ombak dan diempas angin, kerak minyak yang biasanya terdapat di
bagian paling bawah kapal tanker ini menutupi pasir pantai selebar tujuh meter
dan panjang lima kilometer.
Berbagai biota laut seperti ikan kecil, kerang, serta kepiting mati terjebak oleh
limbah minyak ini dan bangkainya terdampar di tepi pantai. Petugas dari
Pertamina yang melakukan pembersihan pantai memasukkan limbah minyak
bercampur pasir ini ke dalam karung-karung plastik. Namun setiap kali limbah
dibersihkan, datang limbah baru yang jumlahnya lebih banyak.
Sejumlah nelayan mengatakan sering melihat kapal-kapal tanker setelah
mengisi minyak ke kilang, kemudian membersihkan kerak minyak dan dibuang
langsung ke laut. Kerak minyak ini kemudian mengotori pantai setelah diembus
angin dan terbawa ombak.
Kepala Kepolisian Resor Balikpapan Ajun Komisaris Besar Hadi Purnomo
mengatakan sedang menyelidiki asal limbah minyak ini dan polisi sudah
mempunyai beberapa dugaan. Meskipun demikian, polisi hingga saat ini belum
menetapkan tersangka pencemar pantai yang bisa dijerat dengan undangundang
lingkungan hidup ini.
Sementara itu, Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid ketika menghadiri
peringatan Hari Lingkungan Hidup di Samarinda mengatakan, meskipun sudah
ada upaya pembersihan, tumpahan minyak itu justru semakin meluas. Untuk
penyelidikan pencemaran itu, dilibatkan tim Badan Pelaksana Migas dari
Jakarta.
Imdaad menjelaskan, pencemaran minyak tersebut cukup sering terjadi, bahkan
rutin setiap tahun. Namun, intensitas kasus yang terjadi tahun ini paling besar
dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Gubernur Kaltim Suwarna AF juga menyatakan, siapa pun yang melakukan
pencemaran tersebut harus bertanggung jawab. "Harus dibersihkan sampai
benar-benar bersih, saya mau melaporkan itu ke pusat," katanya. (ray)

Rumah sehat menggunakan
bahan-bahan organik
Ani Purwati - 6 Oct 2004 22:16
Hidup sehat bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dan kembali ke bahan-bahan
organik, ungkap Bibong, salah seorang pembicara dalam acara Kampoeng Organik
2004 "Pelatihan Rumah Sehat ala Organik," di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta,
tanggal 23 September 2004.
Bibong, seorang ibu rumah tangga yang menerapkan hidup organik, menyampaikan
sejumlah tips sederhana bagaimana hidup di rumah yang bebas bahan kimia yang
berbahaya dan mahal.
Sebaiknya di rumah menggunakan tempat obat dan tempat makanan yang terbuat
dari beling. Jika sudah tidak digunakan lagi tempat makanan/obat itu bisa dijual
untuk didaur ulang, demikian salah satu tips Bibong.
Sebaiknya tidak menggunakan bahan dari plastik, PVC (polivinilklorida). Jika terpaksa
menggunakan bahan dari plastik pilihlah jenis PP, kata Bibong.
Sisa-sisa makanan yang bersifat organik dijadikan pupuk tanaman di rumah.
Sebenarnya sangat banyak bahan-bahan organik alami yang bermanfaat pengganti
produk-produk mengandung bahan kimia, kata Bibong meyakinkan peserta pelatihan.
Bahan kimia yang biasa digunakan di dalam makanan, bahan kosmetika, bahan
keperluan rumah tangga sampai peralatan masak atau makan.
Ia memberikan contoh formula obat pengusir semut dan kecoa organik sebagai
pengganti pestisida rumah tangga yang sudah dicobanya yaitu ¼ liter air
ditambahkan 10 ml alkohol 75% dan 20 ml cengkeh. Formula alami ini bila
disemprotkan di rumah bisa bertahan mengusir serangga selama satu bulan.
Formula pengganti cairan pembersih lantai sekaligus pengusir nyamuk adalah minyak
atsiri atau sereh atau lemon grass dengan perbandingan air:minyak
atsiri/sereh/lemon gress = 1:3.
Untuk mengusir nyamuk juga bisa digunakan tanaman zodiak dan lavender pada
sudut-sudut ruangan tertentu.
Minyak sereh bisa dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan. Minyak sereh
diteteskan di wadah tungku aroma terapi.
Belimbing wuluh tua bisa dimanfaatkan untuk membersihkan lantai kamar mandi.
Belimbing wuluh tua dihancurkan kemudian diletakkan di lantai kamar mandi
semalaman. Belimbing wuluh hancur itu akan beraksi memberisihkan lantai kamar
mandi.